Sulit Dibedakan
Dunia semakin lama semakin kejam bahkan terkadang kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang sungguh-sungguh salah. Berbagai fenomena dapat kita lihat di kehidupan keseharian kita. Saya teringat akan beberapa fenomena yang sering saya jumpai ketika saya berada di angkutan umum, atau kadang sekadar berjalan keluar ke mall atau hanya untuk membeli makanan favorit keluar rumah. Banyak sekali diantara saudara kita yang sangat sangat membutuhkan meminta belas kasihan kita. Terkadang saat ingin makan diluar rumah, pedagang kaki lima yang biasanya jika sore tiba mereka sudah bersiap-siap untuk berjualan. Beragam yang mereka jual dan kita bisa memilih menu kesukaan kita. Sesaat setelah saya dan teman saya memesan makanan, kami mencari tempat duduk. Namun agaknya sangat ramai orang yang ingin membeli karena memang waktunya makan malam, ada yang langsung pulang dari kantor mampir dahulu kesini. Ada juga anak kos yang berbondong-bondong menghampiri tempat ini. Lumayan membuat perut semakin lapar menanti pesanan / makanan sampai di meja kami. Belum juga kami mendapatkan makanan, datang ibu-ibu yang sangat tua menghampiri meminta sedekah pada kami. Sungguh miris, ada pula pengamen yang berbadan tegap dan masih muda yang datang menghampiri kami. Sebagian pengunjung merasa risih karena ketika sedang enaknya menyantap makanan, banyak sekali yang datang menghampiri. Hal tersebut juga kami alami.
Setelah kami mendapat makanan,,,serasa dalam hati saya benar-benar bersyukur…..akhirnya yang ditunggu-tunggu datang dan ada di depan mata. Saya dan teman saya segera menikmati makanan tersebut walaupun cukup banyak yang datang menghampiri dan mereka datang silih berganti. Melihat fenomena tersebut, kadang dalam hati merasa sangat sedih tetapi kadang jengkel. Kenapa jengkel?? Pernah diketahui bahwa ada sekelompok anak muda, masih sehat dan sebenarnya bisa bekerja akan tetapi mereka memilih mengamen, berjalan dari satu rumah ke rumah lainnya sambil menyanyikan lagi. Ada satu yang memegang alat musik/gitar dan yang lainnya menyanyi. Kadang juga mereka menyanyi bersama-sama. Hasil yang mereka dapatkan cukup lumayan, tapi begitu buruknya mereka gunakan untuk membeli rokok, berjudi dan minum-minuman keras. Sungguh sangat tidak baik……………….
Jika teringat akan hal tersebut saya tidak pernah menoleh kanan kiri, saya hanya ingin berkonsentrasi dengan hidangan di depan saya, menyantapnya dan menikmatinya. Ada terbersit di hati ingin memberi walau hanya Rp. 500, akan tetapi niat itu urung ketika saya ingat kejadian buruk seperti yang telah saya utarakan diatas. Walaupun memang pada kenyataan saya yakin tidak semuanya melakukan hal buruk tersebut. Ada yang memang mengamen / meminta-minta karena benar-benar tidak ada kerjaan lainnya dan hasilnya tidak untuk hal–hal buruk. Bisa dimaklumi kalau sudah tua renta sehingga hanya melihat saja kita akan kasihan. Akan tetapi bagaimana kita bisa membedakannya?????
Ada juga yang datang dari rumah satu ke rumah lainnya meminta sumbangan sambil membawa buku catatan dengan berbagai alasan (untuk yatim-piatu, pantai jompo atau pembangunan masjid). Dan sesungguhnya mereka tidak menggunakan amanat yang telah kita amanatkan dengan benar. Akan tetapi perlu kita ingat, memang ada yang benar-benar melakukan hal tersebut untuk menyuplai pembangunan masjid, yatim-piatu dan panti jompo. Kalau memang benar adanya seperti itu tentu kita dengan senang hati akan memberikan sumbangan. Akan tetapi sekali lagi bagaimana kita bisa membedakannya?? Terkadang meskipun mereka membawa semacam ID card dari instansi/ lembaga yang bersangkutan, tetap saja masih bisa diselewengkan, ID Card kadang dipalsukan/hanya mengatasnamakan saja.
Fenomena lain yang sungguh membuat saya kaget, yaitu kebanyakan yang meminta-minta di kota dan mereka sudah menjadikan hal tersebut sebagai pekerjaan tetap mereka sehari-hari. Sungguh di luar dugaan sebenarnya di kampung halaman, mereka mempunyai rumah yang bagus. Bahkan ada pemulung yang memiliki mobil. Meskipun bukan mobil mewah tentunya, tapi jika kita berpikir sejenak,,,,,,,,ternyata mereka tidak terlalu kekurangan. Bahkan mereka lebih dari karyawati/ karyawan/ pegawai kantoran biasa yang hanya berpenghasilan kurang dari 1,5 juta perbulannya.
Pernah saya membaca, sekarang hal-hal tersebut dijadikan bisnis (semacam memiliki organisasi). Jadi ada semacam pimpinan yang memiliki banyak karyawan yang tidak lain karyawan tersebut adalah pengemis. Pengemis tersebut sudah dibagi berkelompok, berangkat pagi pulang sore. Saat pulang tentunya mereka harus setor ke pimpinan atau boss mereka. Besok paginya mereka datang lagi dan begitu seterusnya. Pastinya setiap bulan mereka ada gaji. Hal ini pernah diungkap dan sudah ditangkap otak operasinya, seingat saya terjadi di daerah Jawa Timur.
Sehingga selalu terbersit niatan di hati saya, dan mungkin ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua tentunya. Jika kita sungguh-sungguh berniat menyumbang untuk keperluan masjid, maka datang langsung dan berikan ke panitia/ta’mir masjid secara langsung. Jika ingin membantu panti-asuhan/pantai jompo, datang langsung ke pengelola panti karena mereka yang megurus panti tersebut sehari-hari. Atau sangat lebih aman, jika sudah berupa barang, misalnya buku tulis untuk anak-anak yatim-piatu, makanan, minuman, baju yang masih layak pakai. Begitu indahnya jika kita bisa berbagi dengan sesama saudara kita. Itulah yang selalu dianjurkan oleh Nabi kita. Dan tidak hanya berupa barang tentunya, kita juga bisa sumbangkan ilmu yang kita miliki.
Kesemuanya tersebut tidak akan berarti apa-apa tanpa dilandasi hati ikhlas,,,,,ikhlas,,,,,,dan ikhlas. Sesungguhnya begitu sulit memiliki hati ikhlas dan tulus.
